Komik…. memang gak banyak yang serius menekuninya…. namun semaraknya bacaan-bacaan dari negeri matahari terbit….mulai dari dora emon hingga avatar… membuat beberapa pemilik penyewaan buku komik ataupun perpustakaan kota Malang selalu ramai dikunjungi anak-anak usia remaja…
Oleh karena itu…hari Jum’at kami melakukan kunjungan Salah seorang Tokoh Komik nasional angkatan Bang Yan Mitagara,Hengky,Teguh Santosa yang memiliki nama tenar SAM TIMUR….
Goresan Tangan yang kental dengan tokoh-tokoh Magic… …. Karakter…. yang kuat dan penampilan…. yang lebih mengetengahkan jagoan yang sakti Mandra guna….. bisa kita lihat di lembar-lembar… komik beliau
Alhamdulillah hari itu banyak yang kita bisa peroleh… dari SAMTIMUR (P Bambang ) yang salah satuputra Beliau juga anggota komunitas Homeschooling kami…
berikut petikan dari surat kabar…

Radar Malang
[ Senin, 27 April 2009 ]
Bambang “Sam Timur” Supriyadi, Komikus yang Terlupakan
Jaya di Jakarta, Pulang Jadi Sekdes
Nama Sam Timur memang tidak asing di telinga para pengemar komik era 70-an. Dia menjadi komikus andal di tanah air dengan puluhan karyanya. Sejak tidak berkarya lagi, namanya pun tenggelam. Dia pun kembali ke kampung halaman mambangun pertanian.
Bambang Tri W
—————————————-
Rahasia Istana Hijau, Lahirnya Maladewa, Durga. Itulah kumpulan judul sebagian komik karya Sam Timur – julukan Bambang Supriyadi. Sejak 1972, namanya ikut mewarnai dunia komik di Indonesia. Karya-karyanya pun laris manis saat dilempar ke pasar.
Sosok Bambang sendiri berasal dari Dusun Sangrahan, Mangunrejo, Kepanjen. Sejak 1972, dia mulai mengembangkan bakat menggambarnya. Mulai gambar tokoh pewayangan maupun membuat tokoh fiksi. Dari keterampilannya menggoreskan kuas di kertas gambar, Bambang mulai kenal komikus yang berasal dari wilayah Malang. Di antaranya, Teguh Santoso, Ganes, Ian Mintaraga, Saldi Jair, Hengki NCO, maupun Toni. Mereka yang menjadi ispirasi lebih tekun mengembangkan bakatnya.
Terutama Teguh Santoso, karyannya dikenal pembaca lebih halus. Bukan saja gambarnya. Tetapi juga alur cerita yang diciptakannya. Dari perkenalan itulah, dia semakin teropsesi sebagai seorang komikus. “Sudah lama sekali saya tidak lagi berkarya membuat komik. Sekarang saya hampir lupa masa jaya dulu,” kata Bambang, mengawali cerita saat ditemuiRadar di rumahnya kemarin.
Sambil mengingat masa jayanya, dia menceritakan pengalamannya menjadi seorang komikus. Sejak berkenalan dengan Teguh, dia terus berupaya mengembangkan bakatnya di bidang menggambar. Selain itu, juga mengembangkan daya imajinasi, mengembangkan ide agar menjadi sebuah karya.
Tiga kali menyodorkan hasil gambarnya, Teguh merasa kagum terhadap Bambang. Saat itulah, dia mulai dikenalkan beberapa percetakan di Jakarta. Hasilnya, gambar dan cerita yang dibuatnya sangat diminati para penerbit. Di antaranya, San Agency, Pancar kumala, Satra Kumala, dan Rusita.
Dalam dua kali pertemuan, para penerbit tersebut berebutan mendapatkan kontrak dengan Bambang. Karena ada empat penerbit yang menawarkan kontrak, Bambang pun memilih San Agency. Alasannya, nilai kontrak yang ditawarkan lebih besar. “Awalnya nilai kontrak Rp 2 juta. Itu setara empat kali gaji PNS yang diterima satu bulannya,” aku Bambang.
Setelah satu jilid komik yang berisi 62 episode berhasil dikerjakan, dia pun kesulitan membuat julukannya sendiri yang akan dipasang di komik. Karena masih awal, dia pun memberi nama Adi S dalam komiknya. Selain mudah dibaca, menurut Bambang, juga mudah diingat.
Mulai dari karya perdananya Durga, komiknya laris manis. Namun sayang, dia tidak tahu berapa komik yang laku terjual. Karena pihak penerbit juga tidak memberitahu. “Saya hanya diberitahu komik laku keras. Kemudian diminta agar membuat komik lagi yang banyak,” aku pria yang gemar memakai topi pet warna hitam ini.
Mendengar komiknya laku keras, dia terus mengembangkan ide ceritanya. Semua cerita legenda dari berbagai daerah diadopsi untuk dikembangkan. Agar karyannya lebih berkembang, dia juga mengadaptasi beberapa cerita dari luar negeri.
Hasilnya pun fantastik. Komik yang digambar dengan kuas dengan media kertas HVS dan tinta bak disenangi para penerbit. Bahkan, tulisan tangan pada dialog para tokoh komik juga ditulis dengan tangan. Saat itulah, dia diminta agar mencari julukan yang tepat pada dirinya. Dan hasilnya muncul nama Sam Timur. “Sam” berarti panggilan “Mas” bagi pemuda Malang, sedangkan “Timur” berasal dari Jawa Timur.
Dengan identitas itulah, Bambang pun semakin dicari para penerbit. Karyannya pun juga banyak dicari para penggemar komik. Terutama cerita yang dianggap melegenda. “Sampai saya kewalahan menerima order dari para penerbit. Namun gajinya tetap Rp 2 juta,” aku Bambang.
Walau komiknya laris di pasaran, dia mengaku tidak mendapatkan bonus maupun royalti dari penerbit. Hanya uang kontrak kerja sama saja yang didapat. Kesuksesannya menjadi seorang komikus bertahan tidak bertahan lama. Sejak bermunculannya media eloktronik, komik mulai tergeser. Media yang mulai menggeser komik di antaranya, radio maupun TV. Pada 1979, media elektronik tersebut mulai mendominasi. Bahkan, karyanya juga bisa didengar melalui radio.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat para penerbit mulai kurang bersemangat. Melihat kondisi tersebut, Bambang bersama Indahwati, istrinya, memutuskan pulang ke kampung halaman. Pria kelahiran 16 Juli 1950 memilih bertani.
Mengingat, sebagai anak tunggal pasangan (almarhum) H Ahmad Joko Sutar-Hj Siti Fatimah, dia berkewajiban meneruskan usaha orang tuanya. “Sepertinya saya sudah tidak produktif. Selain itu, juga tidak ada penghargaan dari penerbit maupun pemerintah,” ungkap pria yang sudah dikaruniai empat anak ini.
Ketekunannya membangun pertanian di desa akhirnya membuahkan hasil. Dia kini dipercaya masyarakat untuk menjadi sekertaris desa (sekdes). Sedangakan istrinya Indahwati diterima menjadi PNS di Kota Malang, sekarang menjabat sebagai Kabid Sosbud Ekonomi Pemkot Malang.
Bukan itu saja, dia juga dipercaya menjadi Ketua KUD Kepanjen. Bahkan, berbagai kegiatan yang ada di desa juga dipercayakan kepadanya. Walau sibuk dipertanian, dia juga masih menyisakan waktu berkarya. Di antaranya, menggambar beberapa tokoh komik dan di bingkai dengan pigura. “Satu di antaranya sudah dibeli Rp 20 juta oleh orang Kota Malang,” aku Bambang.
Rencananya setelah pensiun menjadi sekdes pada 2011 mendatang, dia akan kembali pada bakatnya. Bersama komunitas perupa Malang Selatan, dia akan lebih meluangkan waktu untuk berkarya. Dia berupaya menggeser komik-komik luar negeri yang sekarang ini mendominasi pasar.
Keinginan itu dilandasi dari banyaknya cerita yang melegenda di tengah masyarakat. Masih banyak legenda yang belum dikembangkan. “Saya yakin, legenda maupun cerita komik Indonesia sebenarnya lebih unggul dari karya luar negeri,” urai pecinta tanaman hias ini. (ziz)