»
S
I
D
E
B
A
R
«
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
Mei 29th, 2009 by Sekolah Dolan

Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus adalah meraka yang memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan kekhususannya. Anak berkebutuhan khusus saat ini menjadi istilah baru bagi masyarakat kota Malang pada umumnya. Padahal jika kita memahami lebih dalam lagi maksud dari istilah anak-anak berkebutuhan khusus, istilah ini tidaklah terlalu asing. Di Indonesia istilah yang terlebih dahulu populer untuk mengacu pada anak berkebutuhan khusus adalah berkaitan dengan istilah anak luar biasa. Pada profesi psikologi klinis/kedokteran istilah yang populer adalah anak-anak dengan handaya perkembangan.

Hingga saat ini anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian yang cukup luas di masyarakat adalah mereka yang tergolong kedalam Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder.

  1. Autistic Disorder

Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.

  1. Asperger Disorder

Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya. Namun gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah ”High-fuctioning autism”. Hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya. Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme. Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada great rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin.

  1. Rett’s Disorder

Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan penderitanya adalah perempuan.

  1. Childhood Disintegrative Disorder.

Yang membedakan anak Childhood Disintegrative Disorder (CCD) dengan anak autisme adalah bahwa umumnya anak CCD sempat berkembang secara normal sampai beberapa tahun termasuk kemampuan bahasa bicaranya. Biasanya anak-anak itu mengalami kemunduran setelah menginjak 2 tahun. Kemunduran kemampuan pada anak CDD bisa samapai pada kondisi anak dengan ganggaun autisme berat (low fuctioning autisme) dengan performa yang sama.

  1. Pervasive Development Disorder Not Otherwie Specified (PDD-NOS)

Anak dengan gangguan PDD-NOS performanya hampir sama dengan anak Autisme hanya saja kualitas gangguannya lebih ringan dan terkadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar dan masih bisa diajak bercanda.

Anak-anak berkebutuhan khusus selain Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder :

  1. Child with developmental Impairement

Yang banyak dikenal di Indonesia sebagai anak tuna grahita (mental retardation). Secara umum anak dengan gangguan retardasi mental memiliki inteligensi di bawah rata-rata normal, tidak mampu berprilaku adaptif sesuai tugas-tugas perkembangan usianya. Secara performa fisik tanpak sekilas anak retardasi mental seperti anak normal. Kemampuan berkomunikasinyapun tidak mengalami gangguan.hanyak saja anak retardasi mental sulit mengembangkan topik pembicaraan kearah yang lebih lanjut dan kompleks.

  1. Child with specific learning disability

Anak berprestasi rendah yang lebih populer dengan istilah anak berkesulitan belajar. Mereka mempunyai kesulitan di bidang-bidang akademik, kognitif dan masalah-masalah emosi sosial. Oleh sebab itu kelainan-kelaian yang dialami lebih bersifat psikologis, yang berimbas pada gangguan kelancaran berbicara, berbahasa dan menulis. Anak-anak LD terlihat tidak berkemampuan sebagai pendengar yang baik, berfikir, berbicara, membaca dan menulis, mengeja huruf, dan perhitungan yang bersifat matematika. Tes hasil belajar di sekolah menunjukan angka rendah. Yang tergolong learning disabilitis adalah anak dengan ganguan persepsi, cedera otak/cerebal palsy, minimal brain dysfunction, dyslexia dan developmental aphasia.

  1. Child with emotional or behavioral disorder

Anak dengan ganguan perilaku menyimpang/emosional menunjukan masalah perilaku yang dapat terlihat dari ; selalu gagal/tidak dapat menjalin hubungan pribadi yang intim, berprilaku tidak pada tempatnya (sering mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak logis), merasakan adanya depresi dan tidak bahagia (diri sendiri/bisa keluarga/lingkungan sosial) prestasi belajar menurun (memiliki masalah-masalah kesulitan belajar bukan disebabkan faktor intelektual, sensori atau kesehatan).

  1. Child who have attention deficit disorder with hyperactive (ADHD)

ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf.

  1. Down Syndrom

Anak down syndraom sangat mudah dikenali lewat bentuk wajahnya (seperti orang mongol). Tapi beberapa diantaranya tidak memperlihatkan bentuk muka down syndrom (layaknya anak normal). Mereka biasanya sangat pendiam, sering bermasalah dengan koordinasi otot-otot mulut tangan dan kaki sehingga sering mengalami terlambat berbicara dan berjalan. Kemampuan inteligensinya dibawah rata-rata normal menyebabkan mereka sulit mengikuti tugas-tugas perkembangan anak normal, baik dalam aspek akademis, emosi dan bersosialisasi. Tak jarang behavioralnya juga memperlihatkan perilaku yang tidak adaptif (sering mencari perhatian yang berlebihan, memperihatkan sikap keras kepala yang berlebihan (shut off/berlagak seperti patung) dan kekanak-kanakan.

  1. Child with communication disorder and deafness

Lebih popular dengan istilah tunarungu/wicara adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebahagian atau keseluruhan, akibat tidak berfungsinya indra pendengaran sebagaian/keseluruhan.

  1. Child with partially seeing and legally blind

Anak tunagrahita dikategorikan sebagai anak-anak yang memiliki indra ke-enam. Hal ini mengacu kepada kemampuan inteligensi yang cukup baik, daya ingat yang kuat, kemampuan taktil yang tinggi berupa kemampuan merasakan objek melalui ujung jari-jemarinya sebagai pengganti indra penglihatannya. Anak tunagrahita mempresepsikan dunia dengan menggunakan indra sensoriknya, sehingga mereka membutuhkan latihan dalam waktu yang lama untuk menguasai dunia persepsi. Dalam melakukan interaksi sosial umumnya dilakukan dengan cara menyentuh dan mendengar objeknya, sehingga kurang menarik bagi lawan bicaranya.

  1. Child with Giftednees and Special talent

Anak berbakat memiliki cirri-ciri :

  1. Memiliki skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (general intellectual ability).

  2. Mempunyai problem solving, kreatifitas tinggi dan produktif.

  3. Memiliki keunggulan dibidang akademik/seni/sastra/verbal/etetika/sport/sosial.

  4. Memiliki kemampuan intuisi yang kuat, terkadang mampu mempredisi sesuatu yang bersifat futuristik yang mungkin beberapa waktu (tahun/abad) baru diketahui orang normal.

  5. Memiliki kemampuan kepemimpinan yang teliti dan visioner.

I Wayan Widia  W  (unit pengembangan anak berkebutuhan khusus)


13 Responses  
  • Andrie writes:
    Mei 30th, 2009 at 07:24

    Terimakasih sekali artikelnya…saya minta izin untuk dicantumkan sebagai referensi dalam makalah mata kuliah psikologi pendidikan saya…Insya Allah penulis dan site saya cantumkan… :)

  • Fari writes:
    Mei 30th, 2009 at 20:18

    Artikelnya lumayan oke Pak Wayan…!!! Ditunggu bahasan lebih detail tentang Metode ABA… Salam sukses…

    _LYF_

  • Sekolah Dolan writes:
    Mei 31st, 2009 at 06:25

    Silakan saja dicantumkan, asalkan nama penulis dan situs kami ditampilkan. Terima kasih.

  • Juliawan writes:
    Juli 25th, 2009 at 22:25

    hohoho nice information brother :D salam kenal ya

  • Pusti writes:
    Agustus 22nd, 2009 at 10:03

    Mksi bwt artikel nya…. Pus pke ini bwt tgs dr k2 angktn d PLB…….. Mju trus y. Mhon doany jg y……… Pus ru mau msk kliah……. :-)

  • Fitri writes:
    Oktober 21st, 2009 at 13:12

    aslkm..
    artikelny bgus dan brksan.
    namun, bgaiman cra kta mghadpi ABK fgan secra detai dan pnuh crmat.
    dan sthu sy, ciri2 ABk ad 9mcam..
    bngaimnakh kta mnaggapinya.
    maksih.
    waslm.

  • Sekolah Dolan writes:
    Oktober 22nd, 2009 at 13:53

    masing masing anak memiliki bawaan yang berbeda-beda… tidak hanya anak ABK… anak normalpun jg tidak sama… yang terbaik menurut saya adalah bagaimana menggali potensi yang ada.. pada diri anak itu .. lalu kita upayakan agar menjadi optimal… dengan berbagai cara pendekatan danmetode balajar yang nyaman disesuaikan dengan kebutuhan si anak…
    kita cari referensi sebanyak-banyaknya… cara penanganan ABK… dan perbanyak sharing atau ikutan milis yang cukup banyak di internet

  • mhia writes:
    Desember 4th, 2009 at 09:05

    bermanfaat banget infonya..

    kemarin udah sempat juga berkunjung ke sekolah dolan Malang,
    seru banget..
    anak2 disana asik2 banget yah..
    ^_^

  • rendy writes:
    Desember 7th, 2009 at 17:35

    Unit Pelayanan Inklusi Lentera Insan CDEC mengadakan seminar dan pelatihan
    1. SEMINAR PENANGANAN SEKSUALITAS ABK (ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS : autisma, adhd, MR, ganguan konsentrasi dan emosional dll)
    2. PELATIHAN ORAL MOTOR EXERCISE (Anak yang mengalami gangguan makan, kekakuan otot bicara, ngeces, gangguan bicara)
    Kegiatan akan dilaksanakan pada hari sabtu 12 desember 2009
    informasi lebih lanjut bisa hubungi RENDY (085647077316)

  • ly writes:
    Januari 5th, 2010 at 12:07

    maaf, untuk lebih yakin (selain teridentifikasi dgn ciri-ciri tertentu), apakah ada tes stanford binet untuk anak berbakat ini. dimana?

  • Sekolah Dolan writes:
    Januari 5th, 2010 at 19:45

    Kami memang saat ini bekerja sama dengan beberapa lembaga utuk melakukan identifikasi tentang anak-anak berkebutuhan atau anak berbakat khusus..

  • ly writes:
    Januari 5th, 2010 at 20:50

    anak saya nih dah tes IQ karna disarankan setelah konsultasi soal prilaku, tapi baru umur 2.5 tahun, meski IQ menunjukkan begitu, tapi sy yakin gak yakin tuh kalo gifted (cuma berdasarkan IQ tes). cuma umur segitu apa perlu di tes pake stanford binet? hasilnya tesnya menjalaskan apa saja?

  • Lia writes:
    Januari 16th, 2010 at 09:36

    1. Pengajaran yg bersifat pd diri anak merupakan inti dr pendidikan inklusi,tolong ya di uraikan apa maksudnya dan contohnya juga ya?
    2. Apa perbedaan dan persamaan antara anak tunagrahita dg anak kesulitan belajar?
    Trim’s ya..


Leave a Reply

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa