Ada beberapa keluarga, yang memang mengajar anaknya sendiri di rumah, bahkan menyiapkan ruangan khusus yang didesain seperti kelas di rumahnya (model school at home), dengan jadwal belajar yang ketat dan kalau perlu berseragam; memindahkan sekolahformal ke rumah. Keluarga seperti ini menyediakan banyak waktu bagi anaknya dan memiliki latar belakang akademis yang kuat, dan biasanya anak yang diajar hanya setingkat SD, atau bahkan balita. Tetapi orangtua yang mengajar sendiri anaknya adalah minoritas, sebagian besar tidak demikian.
Lalu, bagaimana anak-anak pesekolahrumah itu belajar?
Atau: benarkah mereka sungguh-sungguh belajar?
Kebanyakan orangtua tidak mampu secara akademis dan mental (=malas) untuk belajar dan mengajar anak-anaknya. Baik karena kesibukannya, atau karena alasan praktis lain. Mereka biasanya menyerahkan anaknya kepada komunitas belajar yang melayani anak-anak pesekolahrumah itu, atau mendatangkan guru les privat, atau mengirimkan anaknya ke lembaga bimbel. Tidak heran, lembaga komunitas sekolahrumah terus bertambah dan berkembang, termasuk berbagai lembaga bimbel yang sekarang mengembangkan diri menjadi lembaga komunitas sekolahrumah.
Biaya bersekolahrumah kemudian menjadi mahal.
Lembaga komunitas sekolahrumah, semisal Homeschooling Kak Seto, Morning Star Academy, Huges E-learning, Homeschooling Prima Gama dan beberapa lainnya yang mulai tumbuh; menuntut biaya belajar yang tidak kalah dari sekolah formal ternama. Mendatangkan guru les juga bukannya murah.
Beberapa keluarga yang ekonominya menengah ke bawah, mencoba mendorong anaknya untuk belajar sendiri, inipun tidak mudah. Praktis anak hampir tidak pernah belajar, belajar secara mandiri? Nonsense.
Pembelajaran jarak jauh yang diprogramkan beberapa komunitas, efektifitasnya sangat rendah. Masalahnya adalah ketiadaan disiplin dan komitmen. Jadi praktis anak sekolahrumah juga tidak belajar. Banyak dari mereka lebih senang melakukan ‘hoby’nya, yang oleh beberapa pakar sekolahrumah Indonesia diistilahkan “mengembangkan potensi pribadi si anak”; tidak mau mempelajari, apalagi sampai tuntas, apa yang dituntut kurikulum. Bahkan ada yang mengatakan: ketrampilan game online merupakan salah satu potensi pribadi anak.
Akhirnya bagaimana? Bagaimana mereka bisa lulus ujian nasional (UNPK maupun UASBN/UN)? Solusi termudah adalah melakukan sulap nilai, gotong royong, silahturahmi dengan panitia ujian; dan berbagai praktek tidak terhormat lainnya. Seringkali hal ini difasilitasi oleh oknum atau lembaga yang mengurus ujian anak-anak sekolahrumah tersebut. Mengapa demikian? untuk menutupi kegagalan dalam meningkatkan kompetensi anak sehingga memenuhi standar kompetensi dalam kurikulum. Sebenarnya hal yang sama terjadi dimana-mana, termasuk di sekolah formal. Tim Sukses bermunculan untuk mendukung kelulusan anak-anak dalam mengikuti ujian.
Orangtua memang tidak harus menjadi ‘guru yang menguasai segalanya’. Tuntutan kurikulum (nasional) cukuplah sulit, tidaklah salah untuk mendatangkan guru privat atau mengirimkan anak ke lembaga bimbel, atau bergabung ke komunitas homeschooling tertentu. Sekolahrumah ideal, yang semua diajarkan oleh orangtua dan keluarganya, hanya ada dalam ilusi saja.
Mungkin dulu: seorang nelayan akan mengajarkan anaknya menjadi nelayan, pandai besi mendidik anaknya menjadi sama seperti bapaknya, koki menurunkan resep rahasianya pada si anak, dalang mewarisi ilmu mendalangnya pada si anak; tapi saat ini, tidak ada yang demikian lagi. Sebagian besar pelaku sekolahrumah mengikuti kurikulum akademis sesuai dengan tuntutan sekolah formal, baik yang mengikuti kurikulum nasional maupun internasional. Karena demikianlah tuntutan dari lembaga pendidikan (formal) ketika si anak akan melanjutkan pendidikannya. Anak tidak bisa diterima di perguruan tinggi tanpa ijasah SMA atau yang setara, atau tidak dapat diterima di SMA atau ikut ujian SMA/Setara tanpa ijasah SMP.
Jangan ragu untuk bersekolahrumah, apabila itu melepaskan anak dari stres dan berbagai permasalah di sekolah formal. Tidak apa ‘outsourcing’ mencari pengajar dari luar keluarga, atau mengirim anak ke lembaga pelayanan sekolahrumah (komuntas hs, dll.). Peran orangtua yang utama adalah terus memotivasi anak untuk belajar dan punya cita-cita, juga memfasilitasi belajar mereka.
Tidak apa orangtua tidak menjadi guru akademis anak mereka, tetapi sangat penting untuk menjadi teladan dalam hidup keseharian.
Budi Trikorayanto




Jadi yg harus di perhatikan orang tua di rumah itu seperti apa?
dan apa yg harus di lakukan anak” HS/ komunitas untuk mendapatkan hasil ujian yg bagus tanpa sulap atau pun tanpa jawaban 100%